Permainan dan/atau Keseriusan

Andalan

Saya menulis di sini bukan untuk dikenang secara abadi, karena telah kita ketahui bersama, lalu lintas jaringan internet kita begitu padat. Satu persatu tulisan, vidio, atau audio saling tumpuk-menumpuk (atau berceceran?). Saya pilih yang di dalam tanda kurung: berceceran. Dalam jumlah banyak, ceceran itu menjadi bala, bahasa kerennya, banjir informasi. Oleh karena itu petuah “bijaklah dalam bermedia sosial” bukan sekedar isapan jempol.

Tapi bukan berarti itu membuat saya ge-er, bahwa dengan Anda membaca tulisan saya, Anda menjadi bijak. Sebab, tujuan saya menulis di sini sungguh hanya untuk bermain-main dan/atau serius. Bisa juga begini: bermain-main dengan serius atau serius dalam bermain-main. Sebenarnya kedua hal itu sama saja, hanya beda dalam pendahuluan dan muatan emosi.

Jika didahului oleh kata serius kita memiliki muatan emosi konsentrasi, kemudian kata selanjutnya bermain-main memiliki muatan emosi kesenangan, karena keseriusan memang bisa dipermainkan. Begitu pun sebaliknya, permainan juga bisa diseriusi. Ah, sebetulnya itu hanya siasat pikiran saya saja, demi terciptanya keseimbangan perasaan. Serumpunlah dengan kalimat: bersedilah ketika senang atau senanglah ketika sedih.

Jadi untuk apa tujuan saya menulis di sini? Saya juga tidak tahu. Sebab, saya belum menulis apa pun, selain ini, di laman ini.

Ini saya kalau lagi nyengir.